Minggu, 04 November 2012


PERJUANGAN TANPA BATAS

Bicara tentang perjuangan , bicara tentang kepahlawanan, maka cerita nyata yang saya tulis diartikel blog saya kali ini yaitu tentang perjuangan hidup seorang anak yang berliku-liku, penuh ujian, baginya kesabaranlah yang menyelimutinya  dari cobaan yang dihadapinya, ketegaran adalah kekuatannya,tekad adalah senjatanya dan keluarga lah semangatnya.
Disini saya akan menceritakan tentang perjalanan hidup teman saya. Dia adalah salah satu anak dari keluarga yang hidup didaerah pedesaan. Keluarga yang sederhana dan serba kekurangan. Dia adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Sebut saja namaya Antok. Karna lahir dari orang tua yang serba kekurangan  Antok dididik oleh orang tuanya agar tidak mudah menyerah dalam menjalani hidup, tegar dan selalu bersyukur. Kondisi ini menuntut dia agar mampu hidup mandiri, tekatnya untuk bisa menjadi orang yang sukses dan dapat membahagian orang tuanya sangat kuat. Langkah awal yang dilakukannya yaitu mulai dari lulus SD dia berjanji pada dirinya sendiri untuk dapat membantu meringankan beban orang tuanya.
Salah satu Cara dia dalam meringankan beban orang tuanya yaitu dengan prestasi pendidikan. Di jenjang pendidikan menengah pertama (SMP) dia berhasil menjadi siswa yang berprestasi disekolahnya dan mendapat Beasiswa disekolahnya. Tidak hanya itu, cara lain yang dilakukanya untuk meringankan beban orang tuanya yaitu dengan bekerja setiap pulang sekolah, menjadi loker Koran pun dijalaninya, Semangatnya dan tekadnya untuk dapat meringankan beban orang tua mengalahkan rasa gengsi berjualan Koran. Dia tak pernah mengelu dengan kondisi hidupnya. Berbagai cobaan dilaluinya selama menjadi loker Koran, salah satunya dia pernah kehilangan uang setorannya dan Koran-koran yang  hendak dijualnya kehujanan pula, alhasil dia tidak bisa berjualan lagi. Padahal hasil jualanya hari itu ingin dibelikanya buku pelajaran untuk persiapan ujian sekolah. Air mata pun menetes dipipinya.

 Allah maha kuasa dan maha berkehendak. Syukur Alhamdulillah keesokan harinya juragan Koran baru untuk dijualnya,setoran pun melimpah. Dia pun bisa membeli buku yang diinginkannya, dan pada hari itu juga adalah hari ulang tahun ibunya. Dia pun membelikan kado untuk ibunya. Kado itu berupa Al-Qur’an dan tasbih. Namun dalam perjalanan pulang musibah menimpanya. Sepeda motor menabrak tubuh anak tersebut. Kado sederhana nan indah untuk ibunya pun hancur, butiran-butiran tasbih tercecer di muka aspal yang panas,lembaran-lembaran  Al-Qur’an sebagian sobek. Tubuh anak itupun bersimpah darah, lemas tak berdaya. Antok pun dilarikan kerumah sakit  untuk  mndapatkan perawatan secara medis.disisi lain polisi yang mengetahui perkara itu mendatangi kerumah Antok untuk memberi tau orang tuanya kalau Antok mengalami kecelakaan. Seketika itu juga ibunya shock.begitu shocknya ibu Antok pingsang, Semua keluarga panik dan mngeluhkan mengenai kondisi Antok.
Ibu Antok bingung mencari biaya untuk membiayai perawatan anaknya. Ibu antok pun bertemu dengan seorang rentenir yang menawarkan pinjaman sebesar Rp.1500.000. Tanpa piker panjang ibu antok langsung menerima tawaran rentenir itu dan langsung berangkat kerumah sakit untuk membayar proses perawatan antok, namun Antok malah melarikan diri dari rumah sakit. Dia menginap dirumah seorang teman lamanya,namanya fikri. kondisi dari fikri sebatangkara,tidak mempunyai orang tua, sehingga antok merasa nyaman dan tenang  untuk memikirkan jualanya lagi. fikri memberi kepada Antok” Awakmu gak usah mekir kerjo,awakmu loh yo entok bea siswa,wes ta gak usah kerjo,sekolaho seng temen”(dengan ekspresi wajah yang meyakinkan). Dia pun menjawab “masalah e iki aku wes janji karo awakku nek aku iku kudu isok meringano beban e wong tuo,aku sakno bapakku bro,dodolane gak tau entek,west a gak popo,gak popo aku” antok mencoba untuk meyakinkan fikri agar tidak khawatir dengannya. Fikri pun menjawab “yowes seng ati-ati tapi awakmu jog dodolan saiki ta,awakmu yo durung waras ngenteni 3 dino ae sek ”. antok pun menuruti nasihat dari temannya.
Dirumah sakit , ibu Antok marah-marah ke perawat dan petugas rumah sakit anaknya (Antok) tidak ada dirumah sakit,karna kejadian ini akhirnya ibu antok jatuh sakit  dan dirawat dirumah sakit.dirumah sakit Ibu antok dijaga oleh budhe dan neneknya.
Saat Antok pulang dari rumah, dia mendapat kabar dari pakde kalau ibunya ada dirumah sakit.akhirnya Antok mengurung diri dikamar,memikirkan bagaimana cara mencari uang untuk membayar perawatan ibunya.
Malam harinya kakaknya pulang kerja dan bicara ke Antok “ awakmu saiki nang ndi ae,moleh telat-telat, moleh sekolah gak ndank moleh”. Akhirnya Antok menceritakan ke kakaknya bahwa dia selama ini sepulang dari sekolah berjualan Koran di by pas. Jualan bunga dipatuk sidomulyo,dia ingin seperti kakaknya dulu.kakaknya pun marah “ awakmu lapo niru aku,emak kurang ta nge’i duek awakmu, engkok nek emak ero engko tambah sedih”.
Namun karna tekat dan janjinya untuk dapat membantu meringankan beban perekonomian keluarga, Antok tetap saja berjualan Koran, pagi harinya antok menemui juragan Koran, Antok pun bercerita tentang kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lali,juragan Koran pun bersedia membantu Antok untuk membayar biaya perawatan ibunya dirumah sakit.
Lama-kelamaan ibu antok Antok mengetahui kalau Antok selama ini berjualan Koran, mengetahui hal itu ibu antok menangis melihat anaknya yang kerja keras berjualan Koran untuk membantu meringankan beban perekonomian keluarga.

Setelah lulus SMP antok  ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.namun orang tuanya tidak membolehkan dia sekolah karna ketidak adanya biaya.ambisi nya untuk ingin bersekolah membuatnya bertekad mencari uang agar dia bisa melanjutkan sekolahnya.dia pun mendatangi juragan koranya dan bercerita tentang keinginanya untuk melanjutkan sekolah dan minta bantuan. Dan ternyata selam menjadi loper Koran selama 3tahun, tanpa sepengatahuan antok si.juragan Koran tersebut mengurangi gaji Antok sebesar Rp.50.000 untuk tabungan antok. Dan selama 3 tahun tabungan yang ada dijuragan Koran itu mencapai -+ Rp.1700.000. akhirnya si.juragan Koran memberikan uang tersebut ke antok untuk membayar daftar sekolah. Uang yang diterima oleh antok dari juragan Koran itu belum cukup untuk biaya daftar sekolah. Dan kekurangan dari biaya daftar sekolah itu dibiayai oleh kakanya. Antok melanjutkan sekolahdi salah satu SMK swasta, jarak anatara rumah antok dengan sekolah cukup jauh.setiap hari dia berangkat sekolah menaiki sepeda ontel, semangatnya untuk sekolah sangat tinggi sehingga jarak jauh yang dilaluinya dengan mengontel  terasa dekat baginya.
3 bulan sekolah, SPP nya belum dibayar, pihak sekolah pun memanggil orang tua Antok.orang tuanya pun menceritakan kalau tidak ada biaya untuk membayar sekolah antok,lagi..lagii orang tua antok menyuruh antok untuk berhenti sekolah. Namun antok tetap tidak mau. Dia mencari pekerjaan untuk dapat membiayai uang sekolahnya sendiri. antok pun rela jadi OB di sekolahnya tanpa gaji,tapi gajinya langsung untuk dibuat membayar SPP sekolahnya. Setiap hari Antok mengayuh sepedanya mnyusuri jalan dari rumah ke sekolah yang cukup jauh, berangkat setelah shubuh dan pulang hingga malam hari. Rasa capek dan letih tak dihiraukanya.rasa itu  kalah dengan semangat dan tekatnya.
Karna prestasinya yang bagus disekolahnya dia mendapat beasiswa,lulus SMK dia meraih penghargaan sebagai siswa dengan Nilai terbaik disekolahnya. Setelah lulus dari SMK banyak guru yang menawarinya untuk menguliahkan antok,Namun orang tua Antok tidak memperbolehkan dia kuliah dan menyuruhnya agar bekerja saja. Dia bekerja sebagai pelatih banjari disekolah-sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 10 mlam dengan mengendarai sepeda ontel yang setia mengantarnya kemanapun, dia mengayuh sepedanya dari sekolah satu kesekolah lain. Selain bekerja sebagai banjari dia juga pernah bekerja sebagai marbot masjid  dengan gaji 350rb/bulan, dia bekerja sebagi Marbot selama 7bulan. Setelah itu dia bertemu dengan seorang Kyai.
Kyai tersebut ingin manjadikanya seorang anak angkat karna kyai tersebut tidak memiliki seorang anak,kyai tersebut pun mendatangi rumah orang tua antok dan minta izin untuk menjadikan Antok sebagai anak angkatnya. Orang tua antok pun menyetujuinya.
  Umin dan Aba(panggilan untuk orang tua angkat antok) pun mengajak antok untuk tinggak bersamanya. Mereka pun berencana menguliahkan Antok. Dalam masalah ini Umik dan Aba sempat berseteru memilihkan universitas. Aba ingin antok berkuliah di Universitas islam negeri,sementara Umik menyuruh antok kuliah di Universitas islam swasta dengan alasan  agar bisa kuliah sambil kerja karna umik ingin mengajarkan pada antok untuk mandiri dan bisa mnghargai uang dan waktu. Akhirnya Antok sekarang menjadi mahasiswa disalah satu universitas islam swasta. Impiannya untuk dapat bersekolah hingga perguruan tinggi pun diraihnya.
Namun Ini bukanlah akhir dari perjuanganya,ini bukan hasil akhir yang ingin dicapainya.pesan darinya yaitu “BERJUANGLAH SELAGI KITA MAMPU UNTUK BERJUANG,GUNAKAN MASA MUDAMU UNTUK MEMPERJUANGAKAN APA YANG KITA IMPIKAN,DAN JANGAN PERNAH MENYERAH ATAU BERPUTUS ASA KETIKA KITA MENGALAMI SUATU KEGAGALAN”.
Cerita diatas merupakan kisah yang benar-benar nyata yang dialami teman saya, terima kasih temanku (I.M) kisah hidupmu menginspirasiku, memotivasiku agar aku terus berusaha,berjuang meraih impian dan lebih bersyukur akan nikmat allah yang telah diberikan padaku.
semoga kisah tentang perjalanan hidup teman saya juga dapat menginspirasi anda.
-I have many dreams and I will achieve those dreams-


  

1 komentar: